• SMK AUTO MATSUDA
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

JALAN PULANG “Kematian adalah jalan lain menuju keabadian”

Dalam sebulan terakhir, blantika musik tanah air dirundung duka. Dua seniman kenamaan tanah air berpulang. Ya, Glenn Fredly dan Didi Kempot. Kepulangan keduanya tentu meninggalkan duka bagi dunia permusikan tanah air. Mereka yang sudah mempunyai tempat di hati para pecinta musik melalui tembang-tembang cintanya, kini tidak lagi bisa menghibur penggemarnya. Meski demikian mereka akan tetap dikenang oleh banyak orang sampai kapanpun, selama cinta masih terus tumbuh di hati manusia. Mereka tetap abadi dalam karyanya.

Beberapa lirik lagu keduanya seolah menjadi bagian yang mewakili perasaan seseorang. Dalam situasi tertentu, seseorang akan mengatakan bahwa “ini gue banget” saat mendengarkan lirik lagu keduanya. Liriknya yang begitu menyentuh akan membuat orang berkaca-kaca saat mendengarkan lantuna khas nan merdu kaka Glenn. Sobat ambyar dibuat tidak malu-malu meneteskan air mata meski dalam situasi konser. Begitulah, keduanya mampu membawa kita ke tempat lain.

Melalui lagunya yang berjudul “Januari” kaka Glenn akan membawa memori kita ke tempat dimana kita pernah mengalami sakitnya patah hati karena hubungan asmara yang kandas. Kemudian perlahan kita akan bersenandung mengikuti liriknya tidak peduli se-fals apapun suara kita. “Berat bebanku, meninggalkanmu, separuh nafas jiwaku sirna”. Lewat lirik ini kaka Glenn mewakili perasaan kita saat harus meninggalkan kekasih yang sangat dicintai. Seseorang terkadang enggan menceritakan kisah cintanya terhadap orang lain, apalagi kalau ternyata gagal. Beberapa orang lebih memilih memendam dan berpura-pura. Sementara hatinya meronta menahan luka. Lagu-lagu Glenn Fredly adalah teman yang paling dekat untuk mengungkapkan kesakitan. “Bersamamu, yang kumau, tapi kenyataannya tak sejalan. Tuhan bila ku diberi kesempatan, izinkan aku untuk mencintanya, namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta hidup skali ini saja”.

Begitu pula Didi Kempot, meski aliran musik keduanya berbeda, tentu ia berhasil membuat setiap orang yang pernah ditinggal menikah pasangannya makin ambyar. Dalam liriknya ia bersenandung “dudu klambi anyar sing neng jero lemariku, nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku, dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku, nanging kowe lali nglarani wong kaya aku” (bukan baju baru yang ada di lemariku, tapi suami baru yang kau pamerkan padaku, bukan harum mawar yang ku lihat di mataku, tapi kamu lupa menyakiti orang seperti aku).

Mungkin bagi sebagian orang keduanya tidak penting dan tak perlu bersedih atas kepergiannya toh keduanya bukan siapa-siapa. Tapi tidak bagi para penggemarnya. Mereka begitu dicintai, bukan hanya oleh para musisi, politikus, pejabat, rakyat biasa, pengamen jalanan, guru honorer bahkan presiden pun mengucapkan selamat jalan. Orang-orang yang merasa hatinya pernah terwakili oleh mereka tentu merasa kehilangan dua sosok musisi ini.Meski bukan kerabat ataupun sahabat, bertemupun tidak, kita seolah tidak rela keduanya pergi. Kita tidak mengenal sosoknya secara langsung. Bahkan mungkin kita mengenalnya dari lagu-lagu yang diunduh secara gratis tanpa membeli karyanya. Apalagi membayar tiket konsernya. Kita hanya mengenal mereka hanya melalui cerita orang. Tapi kenapa begitu merasa kehilangan?. Karena mungkin dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk menemukan lagi orang-orang seperti mereka.

Meski bukan hanya kali ini jagat musik tanah air kehilangan sosok yang begitu dikagumi banyak kalangan, tapi tetap saja duka meiliki rasa yang sama. Nike Ardila, ia tela berpulang 25 tahun yang lalu, namun sampai saat ini, selalu terasa ada duka dalam setiap lirik lagunya meski lagunya tidak menceritakan duka. Mungkin ini adalah ketidakrelaan pengagum akan kepergiannya. Karena ia telah berhasil merebut hati dan mengisi kehidupan kita lewat lagu-lagunya.

Pada dasarnya setiap manusia ingin mempunyai tempat dalam kehidupan orang lain. Setiap manusia ingin dicintai. Oleh karenanya perjalanan setiap manusia merupakan catatan penting dalam sejarah kehidupannya. Melalui catatan itulah kita akan dikenal sebagai apa untuk orang lain. Orang yang telah berhasil memenangkan hati dengan hati ialah yang telah meretas jalan pulang.

Glenn Fredly dan Didi Kempot telah berhasil merebut banyak hati. Mereka telah menemukan jalan pulang.Selamat jalan Kaka Glenn dan Mas Didi Kempot. Terima kasih telah menemani masa-masa patah hati kami.

Mati dalam cinta adalah keabadian.

Kuningan, 10 Mei 2020

Penulis : Iman Sudirman, S.Pd.I

Guru SMK Auto Matsuda

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Seluruh Civitas Akademika SMK Auto Matsuda mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Mohon Maaf Lahir & Batin.  

Dilihat :1kali 24/05/2020 11:50 - Oleh ICTcenter
Tersentuh Kisah Pilu 'Manusia Kayu' TIM Auto Peduli Sambangi Kediamannya.

Maleber – Teti Darmiati (32) masih terbaring lemas di tempat tidur menahan beban sakit seluruh badanya yang kaku tanpa bisa digerakan. Beliau adalah salah satu warga Dusun 4 Patar

Dilihat :1kali 21/05/2020 12:08 - Oleh ICTcenter
Belajar Matematika itu Mudah

Belajar itu Proses Untuk Menjadi Bisa, dari tidak bisa pasti akan bisa jika kita mengikuti Proses Pembelajaran dengan sebaik mungkin. Tidak ada yang tiba-tiba pintar, semua memerlukan p

Dilihat :1kali 21/05/2020 11:52 - Oleh ICTcenter
Pengalaman Pertama Jadi Guru

Ini sebenarnya hanya cerita lama namun saya mencoba untuk kembali mengingat pengalaman pertama menjadi seorang guru. Pengalaman yang tak sesuai dengan teori dan PPL saya sewaktu masih d

Dilihat :1kali 20/05/2020 20:43 - Oleh ICTcenter
Peduli Covid -19, SMK Auto Matsuda Berbagi Kepada Warga

Maleber – Dampak pandemi covid-19 sangat terasa untuk masyarakat kalangan bawah khususnya. Banyak dari mereka kehilangan pekerjaan, pendapatan berkurang, bahkan menganggur tanpa p

Dilihat :1kali 20/05/2020 19:44 - Oleh ICTcenter